Ajang Boulo dan Vuyu Jangan Hanya Jadi Ajang Popularitas

0

Ajang Boulo dan Vuyu Jangan Hanya Jadi Ajang Popularitas

Catatan Taufik C Mando

Ajang Boulo dan Vuyu Jangan Hanya Jadi Ajang Popularitas – Perhelatan pemilihan Boulo dan Vuyu atau duta wisata yang digelar oleh Dinas Perhubungan dan Pariwisata Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, nampaknya menyedot antusiasme yang tinggi dari para putra-putri daerah. Boulo dan Vuyu merupakan duta wisata yang diharapkan dapat mewakili daerahnya dalam upaya mempromosikan potensi dan aset wisata daerah yang ada, juga diharapkan bagi yang terpilih menjadi duta wisata adalah sosok duta wisata yang kreatif, inovatif, percaya diri, berpengalaman dan berjati diri. Hal itu ditunjang oleh penampilan yang simpatik, yang kemudian diarahkan untuk dapat menggapai visi terwujudnya duta wisata sebagai generasi yang berkualitas, santun, berdedikasi untuk melestarikan budayanya. Selain itu juga dapat berperan aktif dalam mempromosikan kepariwisataan.

Penyelenggaraan pemilihan Boulo dan Vuyu merupakan bagian integral dari pembangunan dunia pariwisata serta pelestarian nilai-nilai seni dan budaya nasional. Kriteria penilaian duta wisata senantiasa ditingkatkan kualitasnya dengan menitikberatkan kepada keterpaduan seluruh komponen penilaian secara menyeluruh. Hal itu menyangkut perpaduan terbaik dari aspek-aspek yang mencakup pengetahuan umum pemerintah pusat dan daerah; pengetahuan sejarah dan kebudayaan daerah; pariwisata dan public speaking; etika busana dan penguasaan bahasa; psikologi dan pengembangan diri.

Perlu diketahui, ajang pemilihan Boulo dan Vuyu sebagai duta wisata merupakan atraksi wisata yang bertujuan melestarikan budaya daerah. Sekaligus sarana pengembangan potensi bakat, kreativitas, kecerdasan para generasi muda untuk menjadi figur yang dapat berperan dalam mempromosikan kekayaan seni, budaya dan pariwisata. Serta menghilangkan citra sebagai pelengkap kegiatan atau pajangan saja.

Melalui ajang ini para finalis Boulo dan Vuyu diharapkan dapat memiliki disiplin, dedikasi, dan tanggung jawab yang tinggi untuk membantu pemerintah daerah kabupaten bolmut dalam memamerkan serta mempromosikan keanekaragaman kebudayaan daerah kepada wisatawan. Sebagai duta wisata, selain harus mampu mempromosikan dunia wisata daerahnya dan sekaligus membantu pemerintah daerah mengajak warga untuk menjaga budaya bersih, indah, dan tertib yang akhirnya menghasilkan masyarakat yang bersih, bermoral, serta bermental baik. Di samping itu, pemilihan duta wisata diharapkan juga mampu menjadi inspirator dan motivator bagi generasi muda dalam menjalankan peran dan fungsinya di masyarakat.

Namun hakikatnya, acara pemilihan Boulo dan Vuyu ini hanya dinilai dari pengetahuan dan kematangan individu secara personal dan bukan sosial. Seharusnya pemenang dari kegiatan ini adalah orang yang telah berbuat banyak untuk kemajuan daerahnya. Kata kuncinya adalah telah berbuat dan bukan telah berteori saja atau punya ilmunya. Akhirnya ketika sang pemenang hanya dinilai dengan kriteria tersebut, output pemilihan duta wisata tidak akan tercapai. Buktinya, pemilihan Boulo dan Vuyu yang digelar setiap tahunnya , selama itu pula kita tidak bisa melihat pembuktian dari para duta wisata. Pada akhirnya kita hanya melihat sebuah kegiatan rutinitas tanpa hasil yang jelas ibaratnya seperti “membuat kegiatan yang tidak menghasilkan apa-apa”.

Beginilah nasib bangsa ini yang selalu menghabiskan uang rakyat tetapi bukan untuk rakyat. Mengkritik persoalan ini jelas tidak akan membawa banyak perubahan, karena persoalannya terletak pada kriterianya. Pastikan pemenangnya adalah orang yang mempunyai knowledge, skill, dan attitude yang baik yang diaplikasi ke dalam kehidupan sehari-hari. Sesungguhnya, tujuan pemilihan  Boulo dan Vuyu itu sendiri sudah menyimpang dari tujuan awalnya, yang memilih duta untuk mewakili kebudayaan daerahnya sendiri. Kebanyakan peserta menjadikan ajang ini sebagai pencarian popularitas dan tampil belaka. Beberapa pengetahuan yang mereka miliki tentang kebudayaan daerah hanyalah informasi seadanya dari bacaan-bacaan yang mereka hafalkan selama proses pemilihan. Walaupun tidak sedikit yang mengakui potensi individual dan karakteristik dari pemenang duta wisata tersebut. Namun, peranan dan kontribusi mereka sebagai duta wisata yang notabene “ikon”nya daerah setempat masih jarang kita dengar. Sementara ini tugas duta wisata masih samar-samar, seharusnya dilakukan perubahan terhadap kriteria dan outcome-nya supaya duta wisata dapat menjadi sebuah ajang yang benar-benar berguna. Terlebih pada kenyataannya pemenangnya belum mampu membuktikan kalau mereka bisa mempertanggung jawabkan apa yang telah mereka dapatkan.

Sebagai tambahan, fakta bahwa duta wisata mayoritas berstatus pelajar ,mahasiswa, dan PNS juga menyulitkan perkembangan ide dan kontribusi mereka karena kesibukan pribadi. Lain halnya apabila mereka dicutikan dan dipekerjakan untuk Dinas Pariwisata sebagai staf pengembangan dan promosi pariwisata. Jadi untuk mengatakan bahwa duta wisata adalah pajangan kurang lebih tepat. Sebab, setelah event duta wisata mereka tidak diberdayakan dengan maksimal untuk keperluan Dinas Pariwisata sehingga pada akhirnya hanya muncul pada saat acara-acara seremonial dan bagi-bagi amplop di kantor.

Untuk perbandingan dengan yang terjadi di luar negeri, kebanyakan pemenang kontes serupa biasanya langsung terjun mengerjakan kegiatan sosial yang membantu masyarakat yang dampaknya sangat besar. Dari memberikan semangat kepada tim dance di sebuah universitas kecil, sampai menjadi juru bicara berbagai organisasi sosial besar. Segala sesuatu yang dapat dikerjakan pasti mereka laksanakan sesuai misi dan visi komite kontes dan juga pemenang kontesnya. Lebih menarik lagi media juga ikut memberitahukan kepada masyarakat tentang kontribusi dan hasilnya lewat majalah atau berita di televisi, sehingga masyarakat mengetahui segala sesuatu yang telah dilakukan para pemenang kontes.

Harapan masyarakat bagi Boulo dan Vuyu ke depan semakin berkembang dan berfungsi sebagai duta pariwisata dan duta budaya. Sehingga bisa dilihat hasilnya bukan hanya dilihat dari segi umum saja, karena kita tidak bisa menilai segala sesuatu hanya dari satu sudut pandang saja. Secara konkret, seorang pimpinan daerahpun tidak semudah membalikkan telapak tangan dalam menjalankan dan mengatur sebuah negara. Apalagi hanya seorang duta wisata yang tidak mudah mendapatkan segala fasilitas untuk melakukan promosi budaya dan promosi wisata. Namun, perlu diakui bahwa ajang pemilihan duta wisata dapat membawa perubahan dalam pribadi dan tingkah laku para generasi muda, karena setelah mengikuti ajang pemilihan duta wisata, rasa cinta budaya menjadi semakin mengental di dalam diri.

Mulai sekarang, seluruh duta wisata harus dapat menunjukkan kalau memiliki niat baik dalam memberikan kontribusi bagi daerahnya, karena belum terlambat untuk memulai sesuatu yang baik. Andaikan tidak dilakukan, duta wisata hanya akan menjadi ikon pemborosan yang dilakukan oleh pemerintah daerah yang tidak dapat meninggalkan kesan apa pun yang hilang tertelan waktu. (***)

LEAVE A REPLY