Mengintip Kesulitan Warga Transmigrasi Desa Goyo

0
Transmigrasi Desa Goyo

Mengintip Kesulitan Warga Transmigrasi Desa Goyo

Transmigrasi Desa GOYO  masih  jauh  dari merdeka.  Disana sini, masih  banyak  kekurangan, mulai  dari infrastruktur  jalan,   pendidikan, informasi, penerangan dan sanitasi.  Kendati  serba kekurangan  tidak  menyurutkan   fighting spirit warga  Goyo buat memperbaiki  taraf  hidup mereka.

Berikut Laporan :  Refly Hertanto Puasa S.Pd

WALAU pun  Pemerintah  telah memberikan  perhatian  berupa  pembangunan  sekolah, fasilitas  listrik tenaga  surya. Desa  Goyo  yang  terletak di sebelah  timur  kecamatan  Bolangitang  Barat  itu  masih sangat terkebelakang.  Betapa tidak,   untuk  ke Goyo, masyarakat  harus menyisihkan modal  minimal  Rp 70 ribu. Sewa  ojek Rp 50  ribu, sewa  tukang  rakit Rp 20  ribu. Belum lagi masyarakat  transmigrasi  Goyo  sendiri  yang  akan  ‘turun’  gunung  di desa  tetangga ke Paku, Ollot.  Biasanya    mereka  akan turun  gunung  untuk memenuhi  kebutuhan   rumah tangga, misalnya  belanja di pasar  Bolangitang. Reportase  yang  dilakoni  reporter tabloid Bolmut  Post  akhir  Mei lalu.  Untuk  ke Goyo,   harus   melewati  sungai Paku. Sungainya  cukup  lebar  sekira  100 meter. Disana  ada  aktivitas  pengumpulan pasir, galian C, memancing ikan. Bahkan  air  sungai digunakan buat  cuci mobil. Untuk menyeberang  pun menggunakan  rakit. Di pesisir sungai petugas  rakit  sudah siap. Satu kali  diantar  harus  bayar  Rp 5000,- kalau  dengan kendaraan motor sekira  Rp 10  ribu. Posisi  saat  ditarik  unik.  Pengendara  tetap di atas  motor  lalu kendaraannya  di  naiknya  ke  rakit. Petugas  rakit  lalu mengarahkan ke  seberang.  Butuh waktu  sekira  5  menit  untuk keseberang.  Beruntung  saat  itu  tidak  musim  hujan.  Menurut Uyo, petugas rakit, dalam sehari  dapat  meraup ratusan  ribu. Itu  dihasilkan  dengan jual jasa  mengantar  menyeberangkan penumpang.

Transmigrasi Desa Goyo

Ujian  pertama  melewati   sungai  berhasil dalam Mengintip Kesulitan Warga Transmigrasi Desa Goyo. Bukan  berarti sudah  tak  ada ujian. Masih  banyak. Yang menggelengkan kepala  adalah  jalan  yang menuju  lokasi. Di km 2  jalan yang  dilalui relative  bersahabat.   Pemandangan di jalur  ini  lumayan  menggoda. Di kanan kiri, ruas  jalan   hamparan sawah  yang  menghijau  menyegarkan mata. Adapula  lokasi  kolam ikan milik  anggota  Dewan Joni Patiro. Air  yang  mengalir  cukup  lancer, itu sebabnya  cocok  sekali  dikembangkan perikan air tawar. tak perlu  berlama-lama takut  kehujanan.

Supra X 125  yang dikendarai  cukup  lincah menerjang  jalan yang mulai  berkelok-kelok. Di KM 10 tebing jalan agak  terbongkar.   Dugaannya  karena  air  bah  yang  deras menyebabkan saluran    made  in water  terbentuk. Mestinya, di jalur ini selain jalan diperbaiki, saluran air  juga  tak dilupakan. Ini sama  dengan jalan Desa Pangkusa  ke Sidodadi.  Jalan terbongkar karena  air  tak menemukan salurannya.  Akibatnya  air  terjun ke  jalan lalu mengoyak dan merusak kondisi jalan.  Ini menjadi  masukan buat  Pemerintah deh. Potensi   lingkungan  Goyo  luar biasa. Bukan hanya  perkebunan kelapa  yang  disajikan desa  yang  subur ini.  Perkebunan   cengkeh  pun  marak dikelolah. Hampir sama  dengan  Nuangan, yang  cuacanya sejuk. Bedanya, jalan di Nuangan-Bolmong  Timur, sudah   beraspal  hotmix. Di Goyo baru baru sungai ditebar. Itu pun berseliweran, tak teratur. Kalau  tak  waspada, pengendara  motor  bisa  jungkir balik dijalur ini. Tak ingin  dihantui  rasa takut karena  kondisi jalan yang rusak dan medan yang curam. Gunung Goyo  dan  Paku lalu menjadi  penghibur  lara. Rupanya  Goyo layak  dikembangkan  pariwisata  alam. Dua gunung yang mengapit  lokasi  transmigrasi ini  bak   paku alam yang membuat  Goyo kokoh. Sejam lamanya terombang-ambing  di atas kuda  besi.

Akhirnya  tibalah kami di lokasi Transmigrasi  tahap 1. Kehidupan masyarakat  sungguh  bersahaja. Mengandalkan hasil bumi  berupa  padi ladang, jagung, kacang  tanah, masyarakat  berusaha memenuhi  kebutuhan  mereka. Menurut  Ratih Patiro, mereka  sangat  senang  tinggal di Goyo. Sejak kecil, ia sudah tinggal bersama orangtuanya di Goyo. Awal Goyo dibuka  sebagai  lahan  transmigrasi, mereka mengambil  resiko tinggal di kawasan tersebut. “orangtua  saya  sudah   7 tahun menetap di sini, ”ucap  Rati. Dibalik kesehajaan penduduk, bibir mungil Rati, mengungkapkan kalau  masih ada  warga  yang belum memiliki  lampu tenaga surya.

“Kalau malam harus pake lampu botol. Sekarang  ini sudah tidak lagi, harus gelap gulita. Harga Minyak  tanah  sudah tak mampu  kami  beli,”terangnya. Karena tak ada listrik, mereka juga kesulitan  menge-charge   telepon selular. Biasanya mereka ke rumah tetangga.  Kalau musim hujan, penggunaan listrik  dibatasi. Modul  atau  alat  tenaga  surya  tidak menyimpan  listrik yang cukup. Kendati  dirundung masalah listrik, mereka  bangga  terhadap pemerintah Bolmong  Utara.   Pemerintah  telah  serius  mendirikan sekolah.

“Alhamdulilah, sekolah sudah ada, anak-anak  sudah dapat melanjutkan pendidikan,”kata  Ela. Sejuta  harap terpancar  di mata  bening  Rati, seperti halnya  mata cita-cita ratusan jiwa di Goyo. Mereka  ingin  seperti  daerah lain, jalan yang  baik, pelayanan  kesehatan, pelayanan  pendidikan. itulah catatan sedikit dari perjalanan Mengintip Kesulitan Warga Transmigrasi Desa Goyo (rhp)

LEAVE A REPLY