7 Negara Ikuti Seminar Budaya dan Tradisi Pasific di Manado

0

7 Negara Ikuti Seminar Budaya dan Tradisi Pasific di Manado

7 Negara Ikuti Seminar Budaya dan Tradisi Pasific di Manado –  Tujuh negara akan mengikuti Seminar Internasional Budaya dan Tradisi Pasific di Manado, pada tanggal 4 Desember 2012, yakni Amerika Serikat, Inggris, Fiji, Selandia Baru, Rusia, Australia dan tuan rumah Indonesia.

Mendikbud akan membuka secara langsung dan dilanjutkan keynote speech oleh Gubernur Sulawesi Utara yang ahli tentang Pasifik. “Diharapkan dari seminar ini dapat memberikan rekomendasi bagi kegiatan lanjutan dalam rangka mengeratkan hubungan antar negara di Pasifik,” tutur Wamendikbud Bidang Kebudayaan Kemdikbud Wiendu Nuryanti, di Gedung Kemdikbud Jakarta, Rabu (28/11). Turut Mendampingi Dirjen Kebudayaan Kemdikbud Katjung Maridjan.

Wiendu menjelaskan Indonesia merupakan melting pot bagi banyak peradaban dunia, seperti Eropa, India, Cina, dan bahkan Arab. Peradaban itu memasuki Indonesia melalui tahapan yang disebut adaptasi. “Indonesia merupakan sebuah bangsa yang terpengaruh oleh budaya austronesia. Sebagai contoh, bangsa kita merupakan bangsa yang paling banyak menggunakan bahasa austronesia karena jumlahnya mencapai 250 juta jiwa,” jelasnya.

Pertalian budaya asing, khususnya tradisi pasifik, merupakan sebuah kenyataan yang tidak dapat diabaikan. Bahkan, ada teori menyebutkan asal usul budaya austronesia berasal dari Indonesia. Namun, ada juga yang menyebut berasal dari Taiwan lalu ke Filipina dan kemudian menyebar ke negara-negara lain. Yang jelas, bangsa yang bermukim di kawasan Pasifik memiliki keseragamaan budaya, bahasa, adat istiadat, maupun genetif.

Wiendu  menambahkan Samudera Pasifik atau yang dikenal dengan Lautan Teduh sendiri adalah kumpulan air terbesar di dunia yang mencakup kira-kira sepertiga dari permukaan bumi dengan luas 180 juta km2. Panjangnya sekitar 15.500 km dari Laut Bering di Arktik hingga batasan es di Laut Ross di Antartika. “Dengan ini memiliki kekayaan alam yang melimpah, budaya dan tradisi yang sangat beragam. Negara-negara di wilayah tersebut juga dikenal memiliki pertumbuhan ekonomi tinggi dan berkesinambungan,”katanya.

Indonesia sendiri posisi geografisnya berada di tengah-tengah kawasan Pasifik yang sangat luas, karenannya berada pada titik yang strategis dari banyak sisi. “Indonesia sudah selayaknya dapat meraup keuntungan dengan posisinya tersebut sehingga dapat memakmurkan seluruh rakyatnya,” katanya.

Uniknya, sekat-sekat primordialisme yang salah satunya berupa negara telah menjadikan banyak bangsa menjadi terpisah dalam arti yang sebenarnya. “Terpisah secara kepribadian, cara pikir dan juga dalam hal budaya dan tradisi,” ujarnya.

Sejarah dunia telah membawa manusia memiliki ego kebangsaan yang tinggi dan cenderung tidak  menjadi bangsa yang satu meskipun memiliki aneka persamaan. Hal itulah yang dialami antara lain oleh bangsa-bangsa di Pasifik. Upaya mengeratkan banyak bangsa melalui aneka pendekatan seperti politik dan ekonomi telah dilakukan dari waktu ke waktu. Kita mengenal aliansi politik dan ekonomis seperti ASEAN, APEC, NATO, dan lain sebagainya. Namun aliansi yang tegas dan kuat berdasarkan budaya dan tradisi nyaris sulit ditemukan. Padahal pemahaman dan perasaan kesamaan budaya dan tradisi merupakan “sesuatu” yang sangat asasi dalam membangun aneka hubungan lanjutan seperti hubungan ekonomi,” katanya.

Menurut Wiendu, Itulah mengapa mendiskusikan tentang Tradisi dan Budaya Pasifik menjadi sangat relevan saat ini. Tinjauan yang komprehensif mengenai hal tersebut diharapkan dapat memberikan pemahaman lebih bahwa kita adalah sebuah kesatuan masyarakat yang harus saling bergandeng tangan lebih erat di kemudian hari.

Kemdikbud sangat berkepentingan untuk mengadakan seminar sehari tentang. Tradisi dan Budaya Pasifik yang rencananya dihelat di Manado, diharapkan akan hadir pembicara yang sangat mumpuni, mulai tingkat akademisi, budayawan praktisi hingga duta besar yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Adapun peserta seminar akan beragam namun utamanya adalah para akademisi dari berbagai universitas, mahasiswa, dan semua stake holder.

Wiendu berharap konferensi tentang budaya dan tradisi Pasifik dapat dilaksanakan lebih intensif lagi di tahun mendatang dengan keikutsertaan seluruh negara Pasifik. “Seminar di Manado ini hanyalah jalan pembuka bagi sebuah manfaat besar yang bisa diraup di masa datang,” tandas Wiendu. (kominfo)

LEAVE A REPLY