Sistem BBM Subsidi Mulai Berlaku Juli

1

BOLMUTPOST.COM PT Pertamina (Persero) melansir bahwa penggunaan sistem monitoring pengendalian untuk penerapan kebijakan pembatasan bahan bakar minyak (BBM) subsidi sudah dapat digunakan pada Juli mendatang.

Namun, penggunaan sistem itu akan dilakukan secara bertahap agar dapat digunakan seluruh SPBU yang ada di Indonesia. Demikian hal tersebut disampaikan Vice President Corporate Communication PT Pertamina Ali Mundakir.

Ali mengatakan pada Juli mendatang, Pertamina akan memprioritaskan terlebih dahulu SPBU yang ada di Jabodetabek untuk penggunaan sistem tersebut. “Karena memang konsumsi BBM subsidi terbesar ada di wilayah tersebut,” ujar Ali.

Menurutnya, pemenang tender untuk sistem IT itu sudah ditentukan dan dalam waktu dekat akan segera diumumkan. Namun, Ali enggan membeberkan perusahaan-perusahaan yang memenangi tender tersebut.

Pertamina juga akan menggunakan program lain yang bernama radio frequency identification (RFID). Alat untuk pengendalian BBM subsidi itu juga akan mengatur setiap kendaraan yang hendak melakukan pengisian BBM subsidi sesuai dengan kuota yang ditetapkan pemerintah.

“Nanti saat pengisian, ada semacam alat yang akan mencatat jumlah pengisian setiap kendaraan melalui nomor kendaraan masing-masing. Kalau sudah sesuai kuota, alat pencatat itu akan berhenti sendiri dan tak bisa mengisi lagi dalam jangka sehari,” ujar Ali ketika dikonfirmasi.

Akan tetapi, Pertamina menegaskan pemasangan sistem itu akan memakan waktu lama. Pasalnya, Pertamina memiliki 5.000 SPBU dan dispenser sebanyak 100 ribu yang notabene masing-masing dispenser itu harus dipasangi alat tersebut.

Seperti yang ramai diberitakan, Kementerian ESDM akan menerapkan sistem pengendalian BBM bersubsidi berbasis teknologi di Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta lalu diperluas ke daerah lain. Kebijakan ini diambil untuk menekan penyalahgunaan BBM bersubsidi.

Menurut Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Edy Hermantoro pada prinsipnya kendaraan hanya boleh memakai BBM bersubsidi pada tingkat yang wajar. Saat ini ada dua opsi pengendalian BBM bersubsidi yang diterapkan bagi kendaraan dinas serta mobil operasional pertambangan, perkebunan, dan kehutanan.

Pertama, memakai BBM nonsubsidi. Kedua, konversi BBM ke bahan bakar gas, sehingga semua kendaraan bermotor itu dipasang alat konverter. Namun hal itu tidak signifikan menekan konsumsi BBM bersubsidi sehingga dikhawatirkan konsumsinya tahun ini bisa lebih dari 50 juta kiloliter (kl).

Dalam APBN 2013, kuota BBM bersubsidi 46 juta kl. Tingginya konsumsi BBM bersubsidi itu antara lain dipicu penyalahgunaan BBM bersubsidi, misalnya mengisi solar bersubsidi berulang kali untuk dijual ke industri. Sistem BBM Subsidi Mulai Berlaku Juli

LEAVE A REPLY