BOLMUT POST
Berita bolmut terbaru
xxx header

Sejarah Terbentuknya Desa Mokoditek

2 249

BOLMUTPOST – Pada jaman Prasejarah, alam sekitar letaknya Desa Mokoditek sekarang adalah hutan lebat yang sangat sulit untuk di lalui bahkan tidak ada manusia yang hidup di sana yang ada hanyalah binatang buass dan liar, antara lain sapi hutan (anoa), babi hutan, babi rus, ular dan lain-lain.

Menurut kepercayaan orang-orang tua jaman dahulu, yaitu penduduk desa tetangga bahwa area desa Mokoditek (Sejarah Terbentuknya Desa Mokoditek) dahulu sangat “angker” dan ada seekor naga yang menempatinya.

Sekitar tahun 1927 rombongan keluarga yang berasal dari daerah Gorontalo datang ke tempat ini untuk membuka lahan perkebunan. Yang lama kelamaan berubah menjadi penduduk yang berada dibawah pemerintahan yang berlokasi di desa wakat. Pendukuhan tersebut di namai “NIAGARA” karena diarea tersebut terdapat air terjun, maka masyarakat menamakan area tersebut seperti air terjun yang ada di amerika serikat selanjutnya berdasarkan perpaduan antara “NAGA” dan “NIAGARA” maka pendukuhan tersebut menjadi “NAGARA” (Sejarah Terbentuknya Desa Mokoditek)

Pada tahun 1941 dipulau Siau terjadi gempa bumi dikarenakan oleh letusan Gunung berapi penduduk merasa terancam dengan adanya gempa bumi tersebut sehingga pada tahun 1942 raja Siau yang bernama “Frans Piet Parengkuan” mengutus seseorang mewakili beliau yakni “Willem Kansil” untuk menghubungi/menghadap Raja Kaidipang besar yakni Raja “Ram Soeit Pontoh” untuk memohon bantuan tempat pengungsian/pemukiman bagi penduduk siau yang akan dipindahkan/transmigrasi lokal yang dulu di kenal dengan dengan sebutan “kolonisasi” setelah mendapat persetujuan Raja Kaidipang besar maka terjadi perpindahan penduduk. Pada 20 Agustus 1942 dikirim kemudian pada Maret 1943 dikirim lagi sebanyak 70 (tujuh puluh) kepala keluarga dan mereka ditempatkan dibagian timur Pedukuhan.

“NAGARA” yang terdapat diantara Desa Wakat dan Desa Nunuka perpindahan penduduk terjadi dimasa perang ke 2, oleh  karena rakyat yang harus kerja paksa (Romusha) hingga mengakibatkan banyak kekurangan, diantaranya : Makanan, Pakaian, Maupun obat-obatan, sebagian besar penduduk hanya memakai cawat yang terbuat dari karung. Rakyat pada saat itu sangat menderita dengan keadaan yang ada, ditambah lagi wabah penyakit yang menyerang Rakyat pada tahun 1943-1944 hingga mengakibatkan kematian yang mencapai 3-4 orang/hari akhirnya banyak penduduk yang memutuskan untuk pindah untuk pindah ke Desa tetangga bahkan ada yang kembali ke negeri asalnya yaitu Siau.

Rakyat yang meninggal hanya dibungkus dengan karung atau tikar bahkan ada pulah yang dililit dengan lantai nibong. Lalu dikubur (nibong dalam bahasa Bolangitang gongoliakomuno.

Pada masa penjajahan Jepang nama “NAGARA” dianjurkan, agar dapat segerah diganti dengan nama lain, namun mengantikan nama tersebut baru dapat dilaksanakan pada tahun 1946 nama Desa NAGARA diganti dengan nama MOKODITO yang berarti “Menakutkan” adapun alasan pemberian nama MOKODITO atau MOKODITEK : dahulu Daerah Mokoditek terkenal dengan keankerannya, ditakuti/menakutkan, daerah tersebut perna dilandah wabah, penyakit yang mengakibatkan banyak orang yang meninggal dunia.

Nama Mokoditek disahkan oleh JOGUGU Kaidipang besaryang bernama “HASAN RAM PONTOH”. Setelah masa pemerintahan Jepang berakhir atau Indonesia Merdeka penduduk desa Mokoditek yang dahulu pindah ke desa tetangga akhirnya kembali lagi ke Desa Mokoditek dan melanjutkan pembukaan lahan pertanian dan sesuai dengan peraturan Pemerintah pada saat itu yaitu mengolah dan membuka lahan baru untuk perkebunan dibagian utara dan selatan Desa Mokoditek dan bersamaan dengan itu dimulai pula pengaturan desa dan penyusunan struktur pemerintah desa. itulah Sejarah Terbentuknya Desa Mokoditek Kecamatan Bolangitang Timur Kabupaten Bolmong Utara. (refly)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More