Sehan Ambaru

Sehan Ambaru : Keinginan Melestarikan Nilai Budaya Nusantara

Sejarah Singkat Berdirinya Rumah Budaya Nusantara Mokosambe

Tulisan ini adalah hasil wawancara bolmutpost dengan Sehan Ambaru SH

Sehan Ambaru ; Keinginan Melestarikan Nilai Budaya Nusantara – Rumah Budaya Nusantara Mokosambe, awalnya hanya sebatas Sanggar seni tari biasa yang diberi nama ‘sanggar seni ‘Mokosambe‘, didirikan oleh Remaja Mesjid Mopait pada tahun 1990an dan dibawah Asuhan dari pak Hamim Ambaru.
Waktu mendirikan sanggar seni ini, semua pengurus masih berstatus pelajar SMA, dan selama perjalanan sanggar ini hanya dengan bermodalkan peralatan seadanya untuk mengikuti beberapa iven-iven Festival Budaya tingkat kabupaten, Provinsi bahkan sampai tingkat Nasional dan ikut lomba-lomba seni dan mendapat juara, baik kategori tarian modern ataupun tradisional.
Perjalanan tahun ke tahun dan beralih Generasi ke Generasi, pada tahun 2013 kemudian sehan ambaru dan pak hamim Ambaru sang maestro guru menari di bolmong raya kemudian menaikan statusnya menjadi Rumah Budaya Nusantara, dan tetap diberi nama ‘Mokosambe, dengan Komposis pengurus :
Ketua :Sehan Ambaru.SH,
Sekrtaris: Sukanto Domu.
Bendahara: Hamim Ambaru
Untuk melegalkan RBN ini mereka buatkan akta pendirian dihadapan Notaris dan akhir tahun 2014 di daftarkan ke Direktorat sejarah Kementrian Kebudayaan di jakarta lewat Balai Pelestarian Nilai Budaya Manado, Selanjutnya pada tanggal 2 desember 2015 sehan dan beberapa pengurus dibawa komando pak Hamim ambaru, Secara bahu-membahu memberanikan diri untuk membangun Rumah Budaya Nusantara ini dan menggelar Festival Budaya pada tanggal 22 desember 2015 lalu.
Rumah budaya Nusantara ini disamping sebagai pusat Pendikan, pelatihan dan pelestarian Nilai-nilai Budaya juga sebagai sekretariat untuk mengoleksi berbagai benda atau alat tarian serta buku-buku sejarah Mongondow.
sampai dengan hari ini (10/1) RBN Mokosambe sudah mengoleksi 10 tarian, delapan tarian adat tradisional dan dua tarian tradisional kompilasi Modern, juga beberapa peralatan dan alat musik tari tradisional, serta koleksi alat-alat permainan tempoe Doloe, diantaranya, Pinsikan, Langkadan, Paki-paki Gogotupon, Lolutam, Katipol, dan masih banyak lagi koleksi mainan anak-anak tempo dulu yang terus mereka kumpulkan.
Tidak lupa juga beberapa koleksi buku sejarah kerajaan mongondow yang bercerita tentang empat kerajaan di Bolmong Raya dari beberapa Penulis dan Peneliti sejarah BMR. (rhp)

Tinggalkan Komentar Anda

Please enter your comment!
Please enter your name here