Bolmong Raya

Dinkes Kotamobagu dan Polres Bolmong Siapkan Dasar Hukum Penindakan

Dinkes Kotamobagu dan Polres Bolmong Siapkan Dasar Hukum Penindakan

Kotamobagu “Waspada” Komix

Kotamobagu  – Dinkes Kotamobagu dan Polres Bolmong Penggunaan obat batuk bermerek Komix mulai menyimpang dari khasiatnya. Obat dengan komposisi Dextromethorphan HBr ini digunakan untuk mabuk-mabukkan. Pelakunya sendiri didominasi oleh remaja usia 15 tahun hingga dewasa. Hal itu nampak dari hasil operasi baik pihak Polres Bolmong, maupun Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).

Dimana, setiap pekannya, kedua instansi tersebut sering menemukan para remaja mengonsumsi Komix, tidak sesuai dengan dosis, apalagi untuk meredakan batuk. Penyimpangan konsumsi Komix ini pun disebut sudah masuk kategori
waspada oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kotamobagu.
Kepala Bidang Promosi Kesehatan (Promkes) Dinkes Kotamobagu, Dahlan Mokodompit SKM menuturkan, saat ini pihaknya tengah menseriusi permasalahan Komix ini.
Langkah pertama, yakni berkoordinasi dengan Satpol PP dan Polres Bolmong. “Dengan Satpol PP kami sudah lakukan koordinasi. Dengan pihak Polres sendiri, kita dalam waktu dekat akan berkoordinasi terkait penanganan hingga penindakan terhadap pengecer obat ini.
Nanti, dari pihak Dinkes akan mengeluarkan surat edaran bagi warung-warung yang mendistribusikan obat tersebut, untuk menjual dengan standar yang telah ditentukan Dinkes,” ujar Dahlan, Rabu (2/3).
Dahlan menambahkan, pihaknya sulit menindak penjualan Komix ini mengingat Komix masuk dalam kategori obat yang dijual bebas. Namun, obat ini diperjualbelikan hanya pada toko obat, atau pun apotik.
“Biasanya, obat ini sampai ke warung-warung oleh distributor yang tidak resmi. Sementara yang resmi, hanya memasukkan ke toko obat dan apotik,” tambah Dahlan.
Terkait penindakan, Dahlan mengungkapkan pihaknya akan memberikan sanksi tegas bagi para pengecer jika ditemukan transaksi Komix lebih dari standar yang termuat dalam surat edaran.
“Kita bisa menutup usaha, hingga ada pidana bagi para pihak-pihak yang memperjualbelikan Komix ini tidak sesuai dengan aturan pakainya. Bagaimana mungkin, seorang pengidap penyakit batuk, membeli hingga 10 sachet perharinya?,” tambah Dahlan.
Dinkes sendiri mengaku telah menerima sejumlah laporan terkait dampak penggunaan Komix ini. Ada yang meninggal, hingga mengalami gangguan syaraf. “Kan dalam Komix ini ada penenangnya. Kalau mengonsumsinya dengan dosis tinggi, maka bisa merusak organ dan system syaraf. Terutama Ginjal, tidak mampu lagi mengurai obat. Karena ingat, obat ini adalah racun jika digunakan melebihi dosisnya,” tambah Dahlan.
Dahlan pun meminta pengawasan terpadu bagi para remaja yang mendominasi penyimpangan penggunaan Komix ini. “Terutama keluarga, itu harus mengawasi anak-anaknya untuk tidak mengonsumsi Komix ini tidak sesuai dengan peruntukkan,” tambah Dahlan.
Para remaja sering menyebut dengan istilah “ba span”. Mereka membeli Komix dengan jumlah box. Dengan berbagai jenis rasa, misalnya jahe, jeruk nipis hingga peppermint. Satu box dengan isi hingga 15 sachet, obat batuk ini hanya dikonsumsi oleh satu orang. Campuran Komix ini sendiri yakni dengan minuman teh kemasan, hingga minuman keras. Untuk mengonsumsinya, 15 sachet akan dimasukkan dalam satu wadah berupa gelas. Setelah itu langsung diminum, dan akan bereaksi pada 30 menit setelah meminumnya.(YM/GM)

Tags

Editor

Semua berita yang masuk di email redaksi akan di edit terlebih dahulu oleh tim editor bolmutpost kemudian di publish

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close