BOLMUT POST
Berita bolmut terbaru
xxx header

Norma dan Jenis Adat Istiadat Bintauna

4 2,265

BOLMUTPOST – Yang di maksud dengan tamu Negara ialah seorang pejabat pemerintah yang dalam hal ini adalah pemerintah tingkat kabupaten, provinsi dan pemerintah pusat, yang baru pertama kali berkunjung di daerah ini. Dalam hal penjemputan tamu Negara dilaksanakan apabila mendapat persetujuan dengan hasil musyawarah dari unsur-unsur terkait seperti : pemerintah, pemangku-pemangku adat, tokoh-tokoh masyarakat dan tokoh-tokoh agama.

Tata Cara Penjemputan Tamu Negara

Setelah tamu turun dari mobil salah satu orang tua adat pemegang payung, segera memayungi pejabat tersebut disertai dengan pengalungan bunga oleh seorang anak perempuan yang sudah ditentukan.

Kemudian tamu Negara tersebut berjalan menuju tempat yang sudah di beri tanda lingkaran putih untuk berdiri sejenak menerima itung- itung (tivato) dari salah satu lembaga adat dengan maksud tivato diucapkan dalam bahasa daerah dan didalamnya menyampaikan ucapan Selamat Datang Kepada Tamu Negara, Tiba dengan Selamat di Daerah ini tak kurang sesuatu apapaun. Dan apabila kembali ketempat semula dalam keadaan sehat serta mendapat lindungan dari Allah SWT.

Setelah selesai itung-itung dilanjutkan dengan laporan pemerintah setempat mengenai situasi/keadaan wilayah yang dikunjungi. Kemudian dilanjutkan dengan permainan Tuva yang tersiri dari 7 dan 2 orang sebagai pemain tuva dan 4 orang pemegang alat kemudian 1 orang memukul tambur.

Setelah selesai permainan tuva pejabat tersebut dipersilahkan berjalan kemudian di iringi dengan kulintang kerajaan untuk menuju tempat yang telah disiapkan. Setelah pejabat Negara tiba ditempat yang telah disiapkan dipersilahkan untuk duduk kemudian dilanjutkan dengan permainan tarian Joke.

Arti dari permainan Tarian Joke ini adalah menghormati pejabat yang datang berkunjung ke daerah ini, permainan tarian Joke terdiri dari 2 orang 1 orang laki-laki dan 1 orang perempuang. Tarian Joke diiringi dengan kulintang kerajaan.

Prosesi Norma dan Jenis Adat Istiadat Bintauna Dalam Penganugerahan Sakurango Kepada Pejabat Pemerintah

Masyarkat adat bintauna dan sangkub dalam proses demokrasi ikut berperan dalam program pemerintah dan juga memberikan dorongan agar seseorang pejabat dapat berhasil membangun daerah, perhatian tersebut tidak hanya sampai pada partisipasi aktif bahkan pelaksana adat musyawarah untuk memberikan penilaian kepada pejabat pemerintah yang dianggap berhasil dan menjadi teladan bagi generasi akan datang dengan ditegahkan sebagai jakurango atau kepala suku oleh lembaga adat

Tata cara Pemberian Anugrah

  • Sebelumnya tua-tua adat beserta pemangku adat dari seluruh wilayah adat dari seluruh wilayah adat bermusyawarah untuk menentukan dan mengusulkan pejabat yang di beri anugrah sakurango atau kepala suku. Setelah mereka bersepakat dengan bulat, maka ditentukanlah pelaksana
  • Pelaksana adat sebelum upacara di mulai mempersiapkan peralatan adat seperti pakaian kebesaran, keris, sarung, dan selendang serta topi adat. Upacara Pelaksanaan pengukuhan sakurango dihadiri oleh seluruh tua-tua adat dan pemangku adat, sebelum pakaian adat dikenakan seorang tua adat menyampaikan itum-itum atau tivato, setelah acara sakral penobatan sakurango selesai dihibur oleh kesenian adat berupa kulintang, tambur, gong dan meruas diserai dengan tarian joke.

Prosesi Adat Istiadat Bintauna Pada Penyelenggaraan Syariat Dan Pada Peristiwa Kematian

Pada setiap kematian kita di wajibkan untuk melaksanakan fardu kifayah, seperti memandikan, mengkafankan, menyelatkan, dan menguburkan. Setelah di kuburkan di bacakan talqin dan tahlilan. Adapun pelaksanaan tahlilan dari hari pertama sampai ke seratus adalah merupakan kebiasaan sejak dari dulu kemudian dipraktekkan oleh para ulama bagi keluarga yang berduka, pelaksanaanya biasanya dilakukan dari hari pertama sampai 10 hari. Cara pelaksanaanya dari pertama sampai ke 7 dilaksanakan tahlilan setiap malam, kemudian di malam ke 7 sampai ke 40 tahlilan setiap malam jum’at, dari 40 sampai 100 hari tahlilannya di lakukan setiap hari kesepuluh. Bersamaan dengan itu kebiasaan adat pad akematian ikut di laksanakan seperti penyampaian bahasa adat oleh salah seorang lembaga adat sebelum doa arwah di mulai dihadapan pemangku adat yaitu vovato dan lebe-lebe dalam hal ini pemerintah desa kecamatan dan kabupaten jika pada pelaksanannya hadir serta pegawai syar’i dan masih ada lagi prosesi adat lainnya sebagai berikut.

Selendang Putih (fuyango)

Dimaksudkan selendang putih (fuyango) dikenakan kepada keluarga yang berduka khusunya kaum perempuan sebagai tanda bahwa keluarga tersebut sedang mengalami musibah kematian dari salah satu keluarganya. Selendang tersebut dikenakan dan akan ditanggalkan setelah pelaksanaan doa arwah hari ke tujuh dengan istilah pipiah yang pada saat penaggalannya disertai dengan tum-itum atau hoivoto.

Songkolua

Yang dimaksudkan songkolua adalah peraturan tempat tidur serta pakaian milik si mayit di tempat persemayan, hal ini akan dilaksanakan setelah si mayit selesai dimakamkan. hal tersebut berakhir pada pelaksanaan doa arwah hari ke tujuh yang kemudian pakaian bebas milik si mayit sebagian dibagikan kepada keluarga atau kerabat orang yang meninggal dunia semasa hidupnya, dan sebagian diberikan kepada yang di percayakan keluarga untuk memandikan mayat. yang sebelumnya dilakukan prosesi adat seperti membolak balikan temapt tidur, menepuk-nepuk bantal tidur dan mengibas ngibaskan pakaian sambil mengucapkan itum-itum atau hoivoto yang intinya ialah dengan harapan agar arwah orang yang meninggal terlepas dari segala beban dan keluarga yang di tinggalkan merasa ikhlas atas meninggalnya orang yang mereka cintai dan keluarga memohon kepada Allah SWT Agar arwahnya tidak lagi menggangu keluarga yang di tinggalkan.

Hidangan (paili)

Hidangan atau paili ilah jenis-jenis makanan yang diatur pada talam yang diletakan dalam kamar persemayaman mayit, hidangan ini di bacakan doa tersendiri oleh imam atau pegai syar’I dalam kamar songkolua setelah doa arwah secara umum usai dilaksanakan yang kemudian paili tersebut disedekahkan oleh keluarga kepada oran gyang memandikan. Dalam hal ini dilakukan setiap pembacaan doa 3 hari, 7 hari, 40 hari dan 100 haril.

Pinomarenta

Maksud dari pinomarenta adalah mengantar barang-barang pada hari ke 10 setelah kematian kepada orang yang memandikan mayat berupa pakaian, lampu dinding, periuk, piring, gelas, sendok, garpu, bantal kepala dan guling serta tikar. Pada saat pengantaran alat-alat tersebut oleh keluarga bersama orang-orang tua adat.

Monaraka

Monaraka adalah prosesi adat yang dilakukan oleh keluarga duka bersama lembaga adat apabila yang meninggal itu suami dari seorang istri maka setelah genap 100 hari maka wanita yang suaminya meninggal dunia akan diserahkan kembali tanggung jawab yang sebelumnya tanggung jawab tersebut berada di tangan suaminya yang sudah meninggal, sehingga tanggung jawab keamanan dan keselamatan wanita janda tersebut menjadi tangguangan bersama kedua belah pihak yaitu pihak keluarga laki-laki dan keluarga wanita yang apa bila dikemudian hari ada anak lak-laki yang berminat untuk melamar di jadikan istri keluarga laki-laki dari mantan suaminya sehingga tidak keberatan apabila lamaran tersebut di terima oleh dirinya atau orang tuanya.

Matubo

Yang dimaksud dengan motubo ialah tanda yang dipasang di depan rumah sebagai isyarat keluarga tersebut mendapat musibah kematian, yang terbuat dari bamboo bertiang emapt mengerucut keatas dihiasi dengan janur kelapa, pada ujung atasnya di pasang bendera kain berwarna putih.

Prosesi Adat Istiadat Pada Aqikah Dan Gunting Rambut

Aqikah

Aqikah adalah suatu kewajiban orang tua kepada anak yang baru lahir sejak hari kelahiran sampai dengan sebelum baliq sebagai tebusan, pemotongan aqikah bagi anak laki-laki 2 ekor kambing jantan dan bagi anak perempuan 1 ekor kambing jantan yang sudah cukup umur, yang kemudian dagingnya di bagikan kepada kaum duafa, adapun pembagiannya ada dua cara, pertama daging di masak kemudian diantarkan kepada fakir miskin atau siap saji, yang lebih afdalnya adalah keluarga dekat dan kedua mengundang kerabat kemudian di makan secara bersama-sama

Menurut adat istiadat ucapan aqikah dilaksanakan dengan meriah, sebelum kambing di sembelih dimandikan dengan kembang yang harus pada seluruh badannya, dan di kalungkan dengan bunga kamboja, serta dihadapkan pada cermin saat di sembelih seluruh badan kambing di tutup dengan kain putih.

Gunting Rambut

Gunting rambut bagi bayi baru lahir dilaksanakan pada hari ke 7 sampai sebelum aqil baliq, upacara gunting rambut diawali dengan pembacaan kitab berjanji dalam ruangan yang sudah disediakan yang dihiasi dengan mayang mudah pinang dan pisang masak kecil yang digantungkan pada tali, setelah pembacaan berjanji sampai pada MAHALILQIAM atau ASRAKA maka sang bayi dikeluarkan dari kamar oleh kedua orang tua yang didampingi oleh bebrapa orang yang membawa lilin sudah di nyalakan, dan ada yang membawa baskom berisikan kembang yang diberi minyak harum yang didalam terdapat emas, pada saat menggunting rambut kepala bayi dibasahi kemudian digunting setiap rambut yang terpotong dicampurkan pada kembang dan air kelapa muda, setelah itu rambut dan kembang diisi kembali pada temapt semula, kemudian buah kelapa muda diikat dan digantungkan pada sudut atas rumah. Upacara gunting rambut diakhiri dengan pembacaan doa selamatan oleh imam dan orang serta hadirin yang diundang. (rhp)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

4 Comments
  1. Awal Hc says

    mana sejarah Kecamatan Kaidipang…?

    1. Editor says

      di search aja, banyak sejarah ko, ato bisa liat di menu

  2. ada says

    foto foto tarian adat tuva dan tarin joke ada ?

    1. Editor says

      saat ini belum nanti, nanti kita cek

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More