Torang Samua (So Ndak) Basudara

Torang Samua (So Ndak) Basudara

Sekali waktu sebelum menjadi Presiden Amerika Serikat, Barack Obama dikritik oleh Hillary Clinton oleh karena menurut Clinton Obama cuma banya di ‘kata-kata’. Obama memang terkenal dengan kemampuan retorikanya yang dapat meng-hipnotis banyak orang.
Banyak yang percaya bahwa pidatonya yang diberi judul “The Audacity of Hope” yang dia sampaikan pada saat konvensi nasional partai demokrat Amerika Serikat tahun 2004 adalah pidato yang mengantarkan dia menjadi Presiden Amerika Serikat berkulit hitam pertama kali dalam sejarah.
Dalam pidato itu dengan berapi-api dia menyeru kepada ratusan ribu orang peserta konvensi: “… Saya berbicara kepada anda sebagai cermin dari sesuatu yang lebih substansial, tentang kedigdayaan sebuah harapan; harapan seorang imigran yang mengarungi laut lepas bertaruh nyawa, harapan seorang prajurit yang berpatroli sendirian di Delta Meking, harapan seorang buruh pabrik yang bekerja mati-matian demi keluarganya, harapan seorang anak kurus kulit hitam dengan nama yang aneh, bahwasanya Amerika punya tempat yang sama dan setara bagi mereka!”.
Obama disambut dengan tepuk tangan gemuruh, dan dalam empat tahun sesudah itu, dia muncul kepermukaan ranah politik AS dari sosok senator Illinois yang tidak begitu dikenal menjadi Presiden Amerika Serikat yang terkenal seantero jagad.
Menanggapi kritik Clinton terhadap dirinya itu Barack Obama menjawab “Sebagai sosok yang akan memimpin ditengah ketidak-percayaan publik seperti saat ini, tugas kita adalah mengembalikan ketertarikan dan kegembiraan publik untuk terlibat dalam proses pemerintahan, tugas kita adalah menginspirasi untuk mengembalikan pandangan publik bahwa proses politik itu penting, menarik dan tetap relevan. Jangan sekali-kali beranggapan bahwa kata-kata itu tidak ada artinya.
“I have a dream”(pidato revolusioner Martin Luther King Jr.) hanyalah kata-kata. “ We hold these truths to be self evident that all men are created equal” (kalimat yang disucikan dalam Konstitusi Amerika Serikat) hanyalah sekumpulan kata-kata. Jangan sekali-kali mengatakan kepada saya bahwa kata-kata itu tidak ada gunanya”. (Barack Obama, Milwaukee, Februari 2008).
Prolog di atas menggambarkan sekelumit contoh betapa pentingnya kata-kata dalam jalannya roda sejarah manusia. Begitu pentingnya kata-kata dan cara berkata-kata itu sehingga beberapa ahli semiotika berpendapat bahwa salah satu kunci sukses autokrasi rezim Suharto adalah karena beliau ‘memperkosa’ Bahasa Indonesia; dengan mengganti fonetik kata-kata baku dan memberi ‘aksen-aksen’ pada setiap kata-katanya (“mempertahanken” dst), dengan begitu beliau menciptakan semacam pembeda antara bahasa Indonesia orang biasa dan bahasa indonesia seorang Presiden Suharto, Sang Bapak Pembangunan Republik Indonesia. Pendek kata, Words matter!, Kata-kata itu penting!.
Itulah mengapa, sewaktu saya mengecek newsfeed facebook saya disela-sela downtime server “Pokemon Go”, saya terkejut ketika melihat berita dari kampung halaman bahwa Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara yang baru hendak mengganti slogan Sulawesi Utara “Torang Samua Basudara” yang begitu terkenal itu dengan slogan yang baru: “Torang Samua Ciptaan Tuhan”.
Reaksi pertama saya ketika membaca headline itu adalah “…but why?!”. Setelah menghabiskan beberapa saat menelusuri berita itu saya mengetahui setidaknya ada dua alasan besar kenapa slogan itu mengalami pergantian:
Ekspansi nilai filosofis “Torang Samua Basudara” yang humanistik menjadi slogan yang lebih universal yang mencakup manusia dan lingkungannya yaitu “Torang Samua Ciptaan Tuhan”.
Pemerintahan baru, slogan juga harus baru.
Gubernur Sulawesi Utara menerangkan dalam beberapa kesempatan bahwa sudah saatnya kita bergerak dari urusan-urusan humaistik ke urusan-urusan yang lebih universal, sudah saatnya bagi kita untuk tidak cuma sekedar mengurusi diri kita tapi juga mengurusi alam sekitar kita.
Dari sudut pandang ini pergantian slogan menjadi “Torang Samua Ciptaan Tuhan” dapat dimengerti, sekalipun applause audiens yang memadati pertemuan-pertemuan pada kesempatan dimaksud tidak dapat dijadikan acuan bahwa slogan baru itu dapat diterima seluruh rakyat Sulawesi Utara (you applause to your Governor’s speeches no matter what. – an Indonesian Public Servant.).
Pada dasarnya, dalam ilmu per-slogan-nan (atau dalam istilah yang lebih saintifik: Ilmu Marketing), slogan yang berhasil adalah slogan yang simple, unik, relatable dan konsisten. Itulah mengapa slogan sepatu Nike adalah “Just Do It” bukan “Nike is an Awesome Shoe Everyone Has To Wear It” dan slogan Apple sejak dulu kala adalah “Think Different” sekalipun produk-produk Apple sejak beberapa tahun belakangan ini tidak banyak different nya.
Slogan tidak hanya untuk membungkus maksud tertentu kedalam sederet kata-kata namun juga sebagai Rallying Call yang dapat diterima dan menjadi pelambang bagi yang mengucapkannya. Itulah mengapa dalam pergerakan kemerdekaan slogan perjuangan kita adalah “Merdeka Atau Mati” bukan “Penjajahan Harus Dihapuskan” sebab “Merdeka Atau Mati” tidak saja membungkus tujuan gerakan kemerdekaan namun juga menggambarkan state of mind para pejuang waktu itu yang sudah nekat mati untuk Indonesia.
Dalam hal slogan daerah Sulawesi Utara, kalimat “Torang Samua Basudara” tidak saja membungkus fakta bahwa kita semua adalah anak cucu adam, namun juga merupakan Rallying Call yang secara langsung terhubung dengan state of mind masyarakat Sulawesi Utara yang pada waktu itu sangat khawatir dengan isu perpecahan akibat suku ras dan agama.
Itulah mengapa “Torang Samua Basudara” begitu terterima dan seperti slogan “Merdeka Atau Mati” dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia, “Torang Samua Basudara” menjadi kalimat sakti Sulawesi Utara melewati periode kerusuhan akibat suku, ras dan agama. “Torang Samua Basudara” adalah salah satu alasan kenapa SULUT sulit disulut.
Dalam era Obama, Jokowi, Ahok, Risma dan Ridwan Kamil seperti sekarang ini memang tidak mudah bagi seseorang untuk Rise To The Challange dan menjadi pemimpin yang meninggalkan jejak dalam catatan sejarah.
Maka dari itu adalah lumrah bagi aspiring leaders untuk menggunakan taktik Sensationalist supaya bisa meninggalkan kesan selama kepemimpinan mereka. Sebut saja presiden Filipina yang baru terpilih itu, Rodrigo Duterte. Rody, sapaan akrab Presiden Duterte, tidak saja menggunakan kata-kata bombastis sebagai tag-line pemerintahannya, namun juga perilakunya sehari-hari tidak kalah eksentrik pula.
Namun pada kenyataanya, jauh dari pesona yang ia tebarkan sebagai Tough Guy, Duterte dianggap lemah dalam memperjuangkan kedaulatan Filipina di Laut Cina Selatan, sekalipun Filipina telah dinyatakan pemenang dalam gugatannya terhadap klaim Cina di Laut Cina Selatan itu.
Dalam lingkup lokal, Pemimpin Daerah di Indonesia juga rentan terhadap perilaku seperti ini. Ada tendensi bahwa untuk mendapat pengakuan sebagai pemerintahan yang berhasil, seseorang harus melakukan hal-hal yang berbeda dari pendahulu-pendahulunya sekalipun dalam banyak kasus, hal-hal yang berbeda itu tidak serta merta berarti sesuatu yang sama sekali baru atau lebih baik dari sebelumnya, namun sekedar variasi-variasi dari hal-hal lama namun dibuat lebih sensasional.
Mentalitas “Me Too” inilah yang acap kali membuat pembangunan daerah menjadi stagnan, oleh karena energi pemerintah banyak tercurah sekedar untuk mengejar publisitas sedangkan usaha untuk membuat terobosan-terobosan yang benar-benar baru menjadi minim. Sometimes, being different does not mean better, it just means, well… different.
Sah-sah saja apabila pemerintahan yang baru hendak mencoba untuk mengganti slogan Sulawesi Utara dengan slogan yang mencerminkan kebijakan administrasi mereka. Namun ada alasan kenapa sekalipun CEO Apple telah beberapa kali berganti, slogan perusahaan itu tetap lah “Think Different”.
Mungkin salah satu diantaranya adalah bahwa tidak satupun dari CEO itu yang mau dikenang sebagai orang yang mengganti slogan Apple dengan slogan yang payah (I am looking at you, Tim Cook).
Yang menarik dari kejadian ini adalah, hampir bersamaan dengan publikasi bergantinya slogan Sulawesi Utara ini, dalam rapat paripuna perayaan HUT Kota Manado yang ke 393 (seperti dilansir Manadonews.co.id) Wakil Gubernur Sulawesi Utara, Steven Kandouw menyampaikan bahwa “…Untuk itu, maaf buat Bupati dan Walikota yang lain, karena segala amunisi pembangunan akan diarahkan ke Kota Manado dan tidak ada lagi pembagian merata…”.
Alasannya adalah dengan memakmurkan Manado, daerah sekitarnya akan kecipratan kemakmuran itu. Bagi yang belum tahu, ini adalah ciri khas Trickle Down Economics. Strategi ekonomi yang menjadi trademark Prabowo Subianto di PIPLRES sebelumnya. Singkatnya premise Trickle Down Economics adalah bahwa orang-orang miskin makan dari remah-remah (trickles) orang-orang kaya sehingga satu-satunya cara menolong orang miskin adalah memperkaya orang kaya sehingga makin banyak pula remah yang bisa dimakan orang-orang miskin itu. Ouchh… sekarang mungkin saya mengerti Pak Gubernur: “Torang samua ciptaan Tuhan, mar torang ndak basudara kandung”
Ah.. Server Pokemon Go sudah nyala lagi, baiknya saya bergegas ke Hyde Park untuk menangkap Blastoise.
Sydney, 19-7-2016
Everyone wants to leave a mark.

Penulis adalah Warga Bolaang Mongondow Utara yang sedang menempuh pendidikan Master of Public Policy and Governance di University of New South Wales

SURYA NINGRAT DATUNSOLANG

Editor

Semua berita yang masuk di email redaksi akan di edit terlebih dahulu oleh tim editor bolmutpost kemudian di publish

2 Comments

  1. The real statement, someday this situation can be happen in districk of bolaang mongondow utara. Muda2han pemerintah itantoru tetap menjaga nilai2 “mogusato” buri numa “kepentingan pribadi” bika motumbea pohua karija

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button