Opini

Politik dan Kekuasaan author Niccolo Machiavelli dan Robert Greene

Kekuasaan dalam buku karangan diplomat dan politikus Italia yang juga seorang filsuf, Niccolo Machiavelli atau 48 laws of power author Robert Greene, menempatkan kekuasaan sebagai hal yang harus dikontrol, dicari dengan segala cara dan jangan dilepas.

So cut the crap, Ajaran-ajaran kekuasaan seperti ini menempatkan ego dan ambisi manusia untuk diutamakan. Nafsu manusia dalam hidup dan kehidupan, sekali lagi berbasis nafsu menjadi andalan motivasi. Bagi sebagian orang, kekuasaan adalaah AMANAH SUCI, bagi sebagian ada yang tidak berminat terhadap kekuasaan, tapi sangat jarang yang tidak berminat terhadap kekuasaan.

SOAL kekuasaan adalah AMANAH SUCI, umumnya di KAITKAN DENGAN beratnya menjadi orang berkuasa dalam level apapun dalam level keluarga atau dalam ruang lingkup yang terbatas, Namaun dalam korporasi amultinasional apalagi sebuah NEGARA atau Daerah otonom tanggung jawab tentunya sangat besar.

Tanggung jawab itu berkaitan dengan keadilan dan kesejaahteraan. Apakah seorang penguasa Negara/ Daerah mampu bersifat dan berbuat adil dan mampu mensejahterakan rakyatnya ???

Yang KEDUA  TIDAK MEMPERKAYA DIRI. Godaan menjadi satu AKSEN DAN ASET PUBLIK ( negara/daerah). Untuk keuntungan diri sendiri begitu besar. Setiap informasi dalam kekuasaan adalah uang dan sumbernya bagaimana godaan itu dapat dikendalikan?

KETIGA, sudahkah mensejahterakan rakyat atau menciptakan kepuasan public.  Bagaimana jika rakyat semakin sedikit yang merasa puas kepada seorang Penguasa ???

Dalam perspektif agama islam salah satu pantangan malaikat yang utama didalam kubur adalah soal bagaimana tanggung jawab seorang yang berkuasa, artinya kekuasaan itu merupakan sebab malapetaka bagi manusia, khususnya bila mengedepankan ambisi di atas segala-galanya.

Dalam perspektif KeKUAsaan adalah AMANAH, Jabatan dan kekuasan bukanlah barang rebutan, melainkan beban yang harus di gerakkan memikulnya bagi yang lebih siap, itu yang disebut pemimpin yang adil.

So cut the crap againt, KEKUAsaan di negeri kita sudah berkembang menjadi barang najis dan menjadi arisan keluarga, money politik, kecurangan, menghalalkan segala cara, Nampak nyata bagi permainan untuk mendapatkan kekuasaan, Bukannya LEBER (Lebay dan Berlebihan) tapi ini memang kenyataan.

Orang-orang berebut kekuasaan publik dengan semangat nafsu setan karena :” In Return”  mereka berpikir bahwa dengan kekuasaan itulah mereka akan menjadi jaya, terhormat, dipuja, kaya, bersenang-senang dll.

Perlu pekerjaan besar menjadikan bangsa kita melihat kekuasaan hanya sebatas tugas mulia. Di Negara jepang ada budaya hara-kiri, di Korea Ada menteri yang lompat dari bukit bunuh diri karena merasa gagal. Di Indonesia dulu Mohammad Hatta mundur dari Wapres karena tidak cocok lagi dengan SOEkarno. Lalu kapan budaya kekuasaan dan penguasa yang mereka adalah untuk sejatinya bagi rakyat di negeri???

Teori kekuasaan negara yang dikemukakan Niccolo Machiavelli dalam bukunya II principle pada bab 19 bahwa, “Penguasa, yaitu pimpinan negara haruslah mempunyai sifat-sifat seperti kancil dan singa. Ia harus menjadi kancil untuk mencari lubang jaring dan menjadi singa untuk mengejutkan serigala.”(rhp)

Editor

Semua berita yang masuk di email redaksi akan di edit terlebih dahulu oleh tim editor bolmutpost kemudian di publish

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close