Ultimate magazine theme for WordPress.

Kandidat Pilkada Bolmut Jangan Seperti Doraemon

0 713

Catatan Oleh: Uphik Mando

Jika tidak ada aral melintang, tepatnya tanggal 8 Mey 2013 adalah hari bersejarah bagi rakyat Bolaang Mongondow Utara (Bolmut). Dimana masyarakat akan menentukan masa depan mereka lima tahun yang akan datang. Hari dimana seluruh keinginan, harapan dan impian akan ditumpahkan dalam bilik suara. Momentum dimana masyarakat ingin melihat Bolmut lebih baik di masa depan, bermartabat dan berkeadilan. Harapan itu tentu tidak berlebihan, mengingat selama ini masyarakat masih terkungkung dalam lingkaran kemiskinan diatas sumber daya yang melimpah. Bukan hanya seremonial belaka ibarat pesta perkawinan, yang berakhir setelah menyantap hidangan.

Ini adalah pesta rakyat Bolmut, yang ditayangkan secara lansung untuk memilih  Bupati-Wakil Bupati . Dimana emosi perubahan bergelut dalam hati pemilih saat menentukan sosok pemimpin ideal masa depan. Dalam dimensi yang lebih luas, moment tersebut adalah proses yang sangat menentukan atas perwujudan kualitas demokrasi kontekstual di Bolmut. Ibarat atraksi sulap yang menegangkan, menuju detik-detik dimana masa depan 75 ribu  lebih rakyat Bolmut dipertaruhkan. Penantian itu, harus terbayar dengan terpilihnya  pemimpin yang sunnatullah. Menjadi catatan gemilang, andai pilkada yang damai dan demokratis melahirkan “a wise leader”(pemimpin bijaksana). Optimisme tingkat tinggi tetap harus diusung, walau dalam perjalanan saat ini, berbagai kriminalitas politik masih terjadi di tengah kampanye pilkada damai. Baiknya para kandidat, tidak seperti “Doraemon” sang tokoh kartun yang memiliki kantong ajaib dan bisa memberikan apa saja. (Kandidat Pilkada Bolmut Jangan Seperti Doraemon)

Menebar janji atau harapan besar kepada masyarakat, namun setelah “goal” kembali ke lirik lagu Waterfall “semua tinggal kenangan”. Di kertas suara nomor urut calon boleh saja banyak, namun tetap akan ada satu yang terbaik versi pilihan masyarakat. Masyarakat tentunya tidak ingin memilih bos atau tuan, mereka hanya ingin memilih para pejuang dan pelayan. Indikator lain, menuju pilkada yang bermartabat dan demokratis selain berlansung damai? tentu jawabannya beragam, merujuk pada pendapat para ahli. Substansinya adalah adanya partisipasi aktif masyarakat dalam terlaksananya program politik. Merujuk pada pandangan Juergen Harbemas kualitas politik sederhananya diukur dalam dua faktor: Pertama, luasnya partisipasi politik di suatu daerah (demokrasi prosedural). Momentum pilkada harusnya memberi ruang bebas kepada masyarakat (civil society) untuk berpartisipasi penuh secara ikhlas tanpa paksaan dan intimidasi. Warga Bolmut punya hak yang sama atas pilihan politik, terutama dalam menentukan pilihan pada 08 Mey mendatang.

Sikap proaktif dan reaktif masyarakat sangat penting guna memberi pencerdasan dan pendewasaan politik dalam melihat kualitas para kandidat yang nanti akan memimpin Bolmut. Kedua, kita melihat pada tataran kualitas wacana politik (demokrasi substansial). Ukurannya adalah bagaimana program politik yang dicetus pada saat pilkada dapat direalisasikan dengan efektif dan efisien . Dalam hal ini, masyarakat juga harus berperan aktif dalam mengawal visi-misi dan program kerja calon terpilih. Menjelang kampanye terbuka para kandidat janganlah menjadi euforia semata, namun dia harus mampu menunjukkan kepada masyarakat bahwa program kerja lima tahun mendatang sesuai dengan keinginan masyarakat. Masyarakat Bolmut,  harus mampu keluar dari pembodohan politik para elite. Masyarakat harus berpartisipasi penuh dalam setiap ruang dan kebijakan publik yang ada. Partisipasi dalam politik adalah kegiatan seseorang atau kelompok orang untuk ikut serta secara aktif dalam kehidupan politik, yaitu dengan cara memilih pimpinan dan secara langsung dan secara tidak langsung mempengaruhi kebijakan pemerintah. (***)

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.