Ultimate magazine theme for WordPress.

2013 Tahta Kepemimpinan Dibawah Kolaborasi Sang Juara

0 636

Catatan : Ricky babay

Merintis karir sebagai seorang birokrat, tentu impian menjadi sebagai (Leader) Pemimpin,red. Banyak di harapkan oleh seseorang. Apalagi, bila peluang tersebut terbuka luas serta memiliki dukungan terutama dukungan dari masyarakat. Hal ini, mungkin di miliki oleh sosok Drs Hi Depri Pontoh.

Lelaki kelahiran Desa Biontong 16 Oktober 1962, Kecamatan Bolangitang Timur (Boltim) ini hidup dan besar ditegah keluarga yang tak lain masih memiliki garis keturunan kerajaan Bolangitang, tentu nilai-nilai kepemimpinan sudah di dapatkan sejak masih kecil. Depi, sapaan akrab masa kecilnya, merupakan anak ke tujuh dari tiga belas bersaudara atas pasangan keluarga Amuria Pontoh (Ayah) Almarhum dan Endah Pontoh (Ibu) Almarhuma.  Semasa  kecil Depi, sering akrab menghabiskan waktu bersama Ayahanda-nya tercinta.

Terkadang menemani ayahnya ke kebun atau ke sawah, yang menjadi milik keluarga besarnya. Dari kebiasaan ini, terus membawanya hingga sampai Sekolah Menengah Pertama. (SMP). Seiring waktu berlalu kebiasaan tersebut,  membuat keturunan raja ke empat Bolangitang ini semakin terlatih dalam kemandirianya sehingga membuatnya juga sering menjadi pemimpin di kala Ia  menyelesaikan studi di tingkat pertama dan tingkat atas (SMA). “Semasa kecil Depi (Depri Pontoh, red) sering menghabiskan waktunya bersama ayahnya untuk pergi ke sawah milik keluarganya.

Dan itu dilakukannya hingga Ia beranjak belasan tahun,” kata Sukri Mararo, salah satu keluarga Depri Pontoh. Keinginan bersekolah yang kuat dan tinggi, Depri pun menyelesaikan studi di Universitas Samratulangi (Unsrat) Manado, dengan Program Studi Ilmu Pemerintahan. Depri,  melanjutkan karir ke dunia birokrasi dengan  satu tekad harus ada yang sukses dalam keluarganya dimana dengan komitment yang kuat, Ia pun menjadi salah satu Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkup Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong). Sehingga membuatnya matang dalam menggeluti dunia pemerintahan dengan ilmu dan pengalaman yang ia kantongi menjadikan DP salah satu pejabat di tiga kecamatan Bolmong, yakni Kecamatan Sangtombolang Induk 1994-1998, Modayak 1998-2002 dan Kecamatan Kotamobagu selama 2002-2006. “Setelah itu Ia pun lantas menjadi sekertaris Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Bolmong.

Dan selanjutnya dengan di Dampingi istrinya Dra Ainun Talibo, DP hijrah bersama keluarga ke Kabupaten Bolmut. Dimana Ia dipercayakan  KR Makgansa  menjadi Kepala Badan Pemerintah Masyarakat Desa (BPMD) Bolmut,  tahun 2007,” ujar Sukri. Tak sampai di situ saja pada tahun 2008 Depri Pontoh pun merintis karir dalam dunia politik di mana lewat duetnya bersama Drs.Hamdan Datunsolang (HD) Ia pun terpilih sebagai Wakil Bupati (Wabup)Bolmut periode 2008-2013.

Hingga Ia pun harus memutuskan cerai bersama HD untuk maju di Pemilihan Bupati (Pilbub), Bolmut periode 2013-2018. “Akhirnya Lewat pengalaman dan kecerdasanya selama lima tahun tersebut membuat Depri yang berpasangan dengan seorang politisi mudah, Suriansyah Korompot SH, keduanya keluar sebagai pengumpul suara terbanyak saat ini, di Pilkada Bolmut tahun ini (2013, red) sesuai dari hasil perhitungan oleh pihak penyelenggara Pilkada Bolmut dalam hal ini KPUD. Keduanya unggul dengan perolehan suara terbanyak yakni 17.776 atau total pemilih sebesar 38 persen. Sedangkan posisi kedua di tempati rival sekaligus paman atau gurunya yakni, Hamdan Datunsolang (HD) dan Farid Lauma (FL), dengan perolehan suara sebanyak 16.040 atau 35 persen dari total jumlah pemilih.

Rakyat bolmut pun saat ini tinggal menunggu pelantikan Bupati dan Wakil Bupati pilihan mereka pada pilkada kedua di kabupaten bolmut ini pada semptember 2013 mendatang.Saat ini, kedua pasangan pemenang pada hajatan pesta demokrasi ini pun, tak terlalu banyak memberi tanggapan, keduanya hanya mampu mensyukuri atas nikmat kemenangan yang saat ini diberikan Tuhan Yang Maha Esa (TYME), namun di balik euforiah memeriahkan kemenangan ini, kedua kandidat ini tentu memiliki rasa serta beban moril untuk masyarakat yang akan di pimpin keduanya nanti setelah resmi menjabat sebagai top eksekutif di Bolmut. Beban tersebut bukan apa, Tapi harapan serta keinginan rakyat tentu harus siap di pikul keduanya.

” Kemenangan ini, tentunya sangat-sangat kami syukuri. Suka duka duka yang penuh suka cita saat ini menjadi satu melihat perjuangan kami bersama rakyat bolmut. Yang menjadi beban saat ini adalah tanggung jawab kami kelak dilantik nanti, tentunya harapan masyarakat ada di pundak kami, Insya Allah DP-SYAH akan selalu dan terus berama rakyat untuk Bolmut kedepannya yang lebih baik lagi,” ujar Suriansyah. Yang saat ini, diharapkan, masyarakat khususnya para pendukung dan simpatisan para kandidat pun diharapkan tidak menjadikan Pilkada ini, sebagai alasan terjadinya perpecahan.

Hak demokrasi kiranya telah di berikan dan di sampaikan pada 8 mei lalu. Hasil akhirnya siapapun yang menduduki kursi DB 1 H dan DB 5 H dialah pemimpin yang di pilih atas hati dan nurani rakyat bolmut. Kesatuan dan persatuan dalam bingkai tali persaudaraan harus terus di tanamkan. Apalagi bolmut merupakan daerah adat yang menjunjung tinggi nilai-nilai adat dan kehormatan budaya Bolmut yang di wariskan oleh leluhur yang terkandung dalam pesan Mopopiana, Mototabiana agu Mononandobana, ( babaku-baku bae, baku-baku sayang dengan baku-baku inga). Pesan moral dan spirit rakyat bolmut ada dalam pesan ini. Maka marilah qt satukan pendapat dan tekat untuk kebaikan daerah kita yang tercinta Bolaang Mongondow Utara.

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.